Posts

sebuah cerita (1)

Wey! dalam sebulan terakhir ini gue merasa menjadi kurang bersyukur dan semakin sombong, ada satu titik dimana gue dipanggil perusahaan buat FGD (focus group discussion) padahal cuma kirim cv pagi, eh besoknya langsung FGD, kemudian lolos sampe interview. setelah interview, gue ngobrol sama temen gue yg udah kerja disitu, banyak banget inputan yang langsung bikin gue berdoa ga keterima. ASTAGFIRULLAH. entah ada dorongan darimana, saat itu gue sombong banget ngerasa bakal diterima, malah gelisah kalo diterima gimana. parah tolong hal ini jadi pelajaran ya, jadi manusia gaboleh takabur astagfirullah ya allah maapin. kepedean gue berlanjut sampai temen lain udah dapet kabar bahkan udah lanjut med-check dan psikotes. lah gue? samasekali ga dapet kabar hampir seminggu lewat. mulai panik mulai muhasabah, istigosah, resah dan gelisah. di saat yang sama gue jg ga lolos tes bumn, kan makin heboh ya idup. to be honest, gue tes kerja di beberapa perusahaan lain, tp perusahaan yg gue ceri...

mengurus diri sendiri

ayeay! (edisi bangga) salam hangat dari gue yang Alhamdulillah beneran bisa sidang bulan Juni dan insyaallah wisuda akhir Juli. Pingin banget pun nulis ttg perjuangan sampe akhirnya bisa sidang di post selanjutnya yes. (edisi loyo) salam hangat dari gue yang lg merasa banyak penolakan, seolah terpuruk, nyesel dan mempertanyakan apakah hidup gue bener apa engga. sering banget gue ngerasa diri gue bipolar, kadang seneng kadang sedih tapi dari dulu selalu bisa gue atasi sendiri, udah maklum. Tapi makin kesini makin parah, sampe bingung gue sama diri gue sendiri maunya apa. ini hanya pergolakan diri gue dan emosi gue aja tapi kadang nyamber ke orang sekitar. Gue sangat bersyukur berada disekitar orang-orang yang masih bisa memaklumi pas gue kumat, masih sabar meskipun gue kadang ngaco ngawur aneh pas bete. Sempet kepikiran kalo orang-orang itu pada akhirnya ga tahan bisa ga punya temen kali gue, sedih banget. pas kumat itu gue hanya perlu menyendiri, berpikir dan m...

nikahan

Selamat pagi! Pagi tadi gue baca suatu artikel yang menarik tapi karena bacanya masih ngantuk, gue bakal baca lagi nanti dengan lebih fokus, silakan baca disini . Artikel itu membuat gue ingin menulis ini. Sejak tingkat 3 kuliah, gue sudah mendoktrin orang-orang disekeliling gue kalo gue mau nikah cepet. Meskipun target 25 tahun itu bukan termasuk yang cepet juga, wajar aja. Yes I proudly declare that my life goal is having such a lovely family. Entah keyakinan darimana, gue merasa menikah dan berkeluarga adalah sebenar-benarnya tujuan hidup gue. Gue mau kok jalan-jalan keliling dunia, punya karir bagus, punya rumah, punya mobil, bahagiain orang tua dan sebagainya. Tapi gue merasa kebahagiaan hakiki gue itu ya berkeluarga. Menurut gue gampang aja kalo mau nikah itu, sesuai islam, bisa dibuat mudah makanya gue lantang banget bilang mau nikah seenteng itu~ BUT THE REALITY IS.. Setelah melewati tahap ga punya calon (masalah terbesar ketika mau nikah), gue mulai terbuka ma...

(dalam kurung)

Saat ini, Aku (sedang) mengerjakan apa yang kamu kerjakan Aku menemukanmu, (sekali) lagi Saat itu, Kamu yang (mungkin) berjuang sendiri Kamu yang (tetap) menjadi tumpuanku Saat ini, Aku tidak (ingin) menjadi bebannya Aku yang (tentu saja) tidak berjuang sendiri walau nyatanya sendiri Aku yang memang tidak (ingin) seperti kamu Aku yang mungkin (tidak) bisa menjadi tumpuannya Saat ini, Kamu (mungkin) tahu posisiku Kamu (tidak) pernah peduli, memang Saat nanti, Aku (memang) ingin sepertimu Kamu dan aku (pernah) punya ingin yang sama Aku dan kamu (memang) sangat jauh berbeda Saat ini, (tidak) ada aku yang sepertimu (mungkin) ada aku yang sepertinya Saat nanti, Aku (akan) ada diposisimu Kamu (mungkin) diposisimu, yang kamu inginkan saat itu Aku (akan) juga ada disana -karunika

banyak bicara (5)

heyho! Sepertinya dgn judul banyak bicara ini jadi segmen excuse ga nulis yg ada faedahnya, semuanya tjurhat. sehat, ceu? I love wearing jeans, white/black t-shirts and flops. I love nail arts, body painting, tattoos. Haram emang, santay aja. Sebagai seorang muslim, menutup aurat tuh suatu kenikmatan ya. On the other hand, jeans robek-robek, kaos tangan pendek, rambut panjang terurai plus kacamata item dan topi: SO KEWL. Oya, plus small tattoo  di leher samping, would be perfect. Gue ga segaris keras itu effort demi terlihat cool sampe menjalankan yang haram. Meskipun udh pernah nyari kuteks tembus air which means halal dan tato yang juga nembus air. Harga kuteks yg halal itu 5 kali lipat kuteks biasa. Antara mau sok gaya tapi kesulitan ekonomi ya seus. Kalo tato pernah gue akalin pake hena di tangan dari pergelangan sampe hampir sikut, wow bangga banget sih itu. Karena hena emang ga permanen, memudar dan cenderung oren, jadilah tangan gue kaya karatan. Cuma ok...

banyak bicara (4)

heyho! hemmm oya! jadi... *nyanyi dulu* "Who knows how long I've loved you You know I love you still Will I wait a lonely lifetime? If you want me to, I will And if I ever saw you I didn't catch your name But it never really mattered I will always feel the same" (The Beatles - I Will) gimana ya, kemarin kepikiran kenapa ya kita bersyukur? menurut gue, bersyukur karena mendapat sesuatu. kalo dapet yang gue inginkan, ga akan ngerasa cukup karena keinginan gue banyak haha. tapi yang ideal itu bersyukur kalo dapet yang gue butuhkan, kaya sekarang. jadi ngerasa cukup aja. ada suatu hal. gimana ya. di satu sisi gue amat sangat bersyukur ya allah terimakasih Alhamdulillah. di sisi lain banyak pikiran-pikiran aneh gitu loh. ini bener ga ya? ini baik ga ya? gue salah ga ya? ini sampe kapan ya? ini normal ga ya? udah paling tepat kalo diobrolin ke orangnya, cuma orangnya lagi sibuk. kayanya kalo semua orang menyelesaikan masalah langsung ke orang yang ber...

short story - superficial love (?)

11.00 siang, sebuah kantin Sebuah perkenalan yang memang direncanakan, terjadi dengan begitu saja. Pertama kalinya mereka berjumpa. Anak lelaki yang duduk mematung dan anak perempuan yang terlihat menghampiri dengan buru-buru, tentu saja bersama beberapa anak lain. Tidak ada kesan berarti terlintas di pikiran anak perempuan itu, hanya berujar dalam hati, "biasa saja". Kesan dari anak lelaki itu pun tidak spesial, hanya memastikan bahwa anak perempuan itu memang yang akan dikenalkan padanya. Orang disekeliling anak perempuan rajin menanyakan bagaimana akhir dari pertemuan pertama kali itu. Si anak perempuan cuek tidak terlalu mau ambil pusing, terlebih harus ada rencana berikutnya, makan bersama. Halus menolak rencana itu, si anak perepuan beritikad untuk memulai semuanya dengan obrolan lewat teks. Beberapa hari kemudian, Anak lelaki memulai obrolan dengan menghubungi nomor si anak perempuan. Percakapan biasa tetapi hangat. Pertemuan kedua, namun pertama yang han...