Posts

Showing posts with the label masterpiece

(dalam kurung)

Saat ini, Aku (sedang) mengerjakan apa yang kamu kerjakan Aku menemukanmu, (sekali) lagi Saat itu, Kamu yang (mungkin) berjuang sendiri Kamu yang (tetap) menjadi tumpuanku Saat ini, Aku tidak (ingin) menjadi bebannya Aku yang (tentu saja) tidak berjuang sendiri walau nyatanya sendiri Aku yang memang tidak (ingin) seperti kamu Aku yang mungkin (tidak) bisa menjadi tumpuannya Saat ini, Kamu (mungkin) tahu posisiku Kamu (tidak) pernah peduli, memang Saat nanti, Aku (memang) ingin sepertimu Kamu dan aku (pernah) punya ingin yang sama Aku dan kamu (memang) sangat jauh berbeda Saat ini, (tidak) ada aku yang sepertimu (mungkin) ada aku yang sepertinya Saat nanti, Aku (akan) ada diposisimu Kamu (mungkin) diposisimu, yang kamu inginkan saat itu Aku (akan) juga ada disana -karunika

short story - superficial love (?)

11.00 siang, sebuah kantin Sebuah perkenalan yang memang direncanakan, terjadi dengan begitu saja. Pertama kalinya mereka berjumpa. Anak lelaki yang duduk mematung dan anak perempuan yang terlihat menghampiri dengan buru-buru, tentu saja bersama beberapa anak lain. Tidak ada kesan berarti terlintas di pikiran anak perempuan itu, hanya berujar dalam hati, "biasa saja". Kesan dari anak lelaki itu pun tidak spesial, hanya memastikan bahwa anak perempuan itu memang yang akan dikenalkan padanya. Orang disekeliling anak perempuan rajin menanyakan bagaimana akhir dari pertemuan pertama kali itu. Si anak perempuan cuek tidak terlalu mau ambil pusing, terlebih harus ada rencana berikutnya, makan bersama. Halus menolak rencana itu, si anak perepuan beritikad untuk memulai semuanya dengan obrolan lewat teks. Beberapa hari kemudian, Anak lelaki memulai obrolan dengan menghubungi nomor si anak perempuan. Percakapan biasa tetapi hangat. Pertemuan kedua, namun pertama yang han...

---yang berarti bintang---

bintang, akan lebih baik jika sambil mendengar ini... *bagaimana aku menyapa bintang yang nyatanya ada, terlihat, (mungkin) terasa namun tak membuat tersadar... ehm, aku anggap ini sebuah tulisan, untuk bintang. mungkin ini terlalu berlebihan, efek sesaat atau hanya percikan biasa tapi ini penting untuk aku nyatakan. ehiya aku mulai saja.... dear bintang, aku tau kamu baik, kita memang terbiasa tidak saling merasakan. Jadi, ku pikir aneh jika tiba-tiba aku bersikap sebagai pemerhati (aku tak perlu menanyakan kabarmu, kan?)... oh ya bintang, aku memang tau keadaan hatimu saat ini, aku tidak menutup mata tentang itu namun biar jadi ceritamu saja, dan semoga semua sesuai harapanmu ya. begini loh bintang... .... .... .... .... keseharianku melihat kehadiranmu setiap malamnya memang membahagiakan (kecuali saat kamu sangat menyebalkan, oke next). Sinarmu yang tak selalu terang tapi tetap menerangi sedikit-sedikit apa yang aku lakuk...

Pesan, kepada teman

Selamat, untuk yang kesekian kalinya. Tidak, ini bukan sindiran Benar, ini sebuah pesan Bisa anggap ini dari teman, kepada teman Tolong jaga dia baik, perjuangkan kuat, bahagiakan kekal Tolong jangan lampiaskan, nyatakan sesaat atau hanya bersenang-senang Silakan lakukan, semua keyakinan Silakan pilih jalan yang diinginkan Silakan berbuat, apa yang memuaskan Sebagai teman, hanya ingin berpesan Waktu tak akan diam Hati bukan benda mati Perempuan bukan mainan Ini bukan yang pertama, yang kedua, ketiga entah berapa Pertama, bisa dipercaya Kedua, masih percaya Ketiga, sudah tak bisa Ke entah berapa, mohon maaf Ke entah berapa, bisa abaikan pesan ini Ke entah berapa, jangan berbalik Ke entah berapa, tak usah memanggil Memang takdir punya jalannya, Memang semua sudah tertulis, Biar teman menjadi tak usah kenal lagi, Jalanilah, dengan tujuan Dengan harapan, wujudkanlah Jangan biarkan mulut berkata apa, Kemudian lain lagi, Kemudian alasan lagi, Baiklah Sila...

tidak lebih dari satu jam

tidak ada apa apa sudah biasa, tidak ada beda selera tidak berubah sudah lama namun tetap saja hitam, polos mudah dicinta satu selera dua selera tiga tapi tidak selera berkata, tersenyum lewat 10 menit bercanda, tersenyum memang aneh tapi tegap, terlihat kokoh, gagah? tidak juga sekelebat terbayang, sebuah rancangan memang aku tidak berubah oiya rambutmu harusnya sedikit dirapikan hemmm kacamatamu, suka? tak apa kaos itu, tidak usah lagi dipakai didepan yang lain tutupi dengan jaket, oke jauh lebih baik ada apa sih ini? eh kamu bicara apa? oh tertawa.. sudah terlalu jauh maksudku... memang ulah teman-temanku santai saja,  aku mulai biasa, tapi tidak juga aku datar saja, tapi tetap susah susah tidak melihat dan berpikir keras,  untuk bisa melihatmu, sesuai seleraku tapi toh saat ini cukup kau lebih dari cukup aku hanya butuh cukup tidak perlu lebih biar angin bawa semua lamunan ini e...

Ternyata aku baik-baik saja

Saat itu ketika rangkaian kata melekat Daun telinga pasrah menerka Hati bergejolak tapi bisa apa Ruang sekeliling menyudutkan, semakin sempit Kosong menyeruak, air mata tak tertahan Tapi aku baik-baik saja.. Langkah memberatkan Untuk tidak bisa diam Untuk tidak bisa menahan Hanya pilihan merelakan Berkali-kali terpikirkan Debu terbang lambat Seperti darah hampir berhenti Lemas sudah lumrah Hati lebih dari patah Tapi aku tetap baik-baik saja.. Detik jam hampir terbelah Waktu berlalu buru-buru Hingga seperti menekan sekali lagi Senja hilang begitu saja Semesta melanjutkan hidupnya Posisi yang jauh berbeda Seperti tak pernah ada hati yang jatuh Tanah memakan kenangan Samar-samar hanya bayangan Dan aku baik-baik saja Demi tak ada lagi masa-masa itu Bahagia sudah berubah, menjadi lebih sederhana Tawa tidak susah Tangis berkurang drastis Sekeliling semakin baik Syukur tak henti-henti Bagaimanapun, Tujuan tetap meminta diraih Harapan muncul lagi da...

kondangan zone

sempet kepikiran tentang kondangan zone? mungkin udah banyak ya yang kepikiran tentang zona ini. Setelah sebelumnya ada friend zone, brother zone, nebeng zone, makan bareng zone, jalan zone (ini gue ngarang semua ya) nah sekarang gue (dan mungkin perempuan atau lelaki lain di luar sana yang single, available dan non gebetan) sudah mulai berpikir mengenai zona ini. Terlebih lagi dikarenakan umur yang sudah menginjak usia sebagai sarjana muda yaitu 22 tahun dan jarkoman bukan lagi tentang kuliah tapi tentang undangan nikahan dari teman maupun senior.  kondangan zone diperlukan bagi mereka yang udah gue sebutin di atas ya, buat yang ga termasuk dan ga ngerasa perlu kondangan zone ya santai aja gausah ngegas gitu, Jadi begini *ngepletekin jari*... buat gue pribadi ada beberapa alesan butuh kondangan zone: 1. temen di jalan. gue gatau jalanan jakarta, pun gmaps, waze apapun itu gak bisa terlalu banyak membantu gue kalo gue nyetir sendirian, malem pula, siang aja nyasar...

lots of tear

it is easy not to cry in front of someone who is not into you but it is very hard not to cry in front of someone who is really into you.  i do not know how many litter of tears which i produced yesterday just because thinking about you have already prepared and ready to go, leave me. i never imagined that this day would come. moreover it came to me who missing you a lot and have not met you for a long time. i was going to me meet you to spill my feeling, sharing laughs but you had a rare topic to talk about. it made me.. well hard to resist my sadness. so... i will not give you another load. also i will not ask you to stay. you know exactly how it feels when you force someone to stay by your side when there is no will.  -karunika

apanya?

kataku kemarin, semua bisa dijelaskan dengan tulisan tapi kataku hari ini, aku munafik ada rasa yang tak bisa dituliskan dengan kata bagaimanapun juga bercerita pada teman, jika tidak ada kata yang pas untuk ungkapkan dan disinilah mengalir, tiap huruf yang mungkin tak berarti tiap spasi yang tidak ada penjelasan semuanya berputar, lancar seperti roda satu sifat manusia akan selamanya begitu, atau bisa berubah? perlakuan pada setiap manusia lain, bisa berbeda atau akan bisa sama saja? tiap jengkal sikap dan tindakan, bisa sama? bisa. dan itu terjadi. dan itu nyata. dan itu tak terelakan. dan aku terdiam, semematung itu karena tidak siapkan mimik muka sebelumnya setawar itu kata yang meluncur , jika "oh" dan "hm" masih bisa disebut kata ya, semuanya berubah seperti apa yang digariskan-Nya terbaik dari segala yang baik tak pantas titik kecil di semesta ini mengeluh atau bertanya mengapa -senyata apa?

dingin

Matahari pun gelap, demi lelah menggelantungi tepat di titik berperasaan Bilamanapun hujan turun tak berperi, deras, deras dan deras lagi Sampai bulan tegak congkak menengadah begitu tinggi Miliaran bintang setitik titik juga enggan pergi demi malam yg mereka agungkan Dimana lagi dilangit ini tempat mentari berhias Siapa lagi ciptaan yang harus mati demi malam yg tak akan berganti Untuk apa lagi pun jika secelah awan beri titik nol dan mentari berparas elok Jikalau semua enggan membuka mata, tutupi kulit dengan acuhnya Jika kenampakan adalah kemenangan, selamat pada bulan demi adanya yg tak jua hilang Terimakasih pada hujan, yg egoisnya mampu ciptakan peluh sadar Berjuanglah untuk bintang demi setianya menemani kepekatan Matahari tak perlu hentakan kepala ke dinding besar atmosfer, pun menangisi hadirnya yg tak termenangi menembus langit ke 7 Mohonkan pada semesta tuk beri teori big bang hadirkan kenyataannya kembali Jika itu perlu mimpi untuk adanya langit yg miliki ...

explode

“pagi sudah membangunkan ayam berkokok, kau belum bangun juga?” |”tentu saja sudah, mana mungkin aku membiarkan muka manis cemberut karena aku” “tak usah menyogoku dengan rayuan kaku mu itu, jangan kau sangka kepergianmu selama ini akan hilang bekasnya dengan kalimat manis itu” |”hey, kita sudah bahas itu berulang-ulang dan kita sepakat itu karena gengsi kita se-mahameru. Bukan salah aku sepenuhnya” “tidak. Gengsimu yang se-mahameru. Gengsiku hanya se-mahameru kurang satu langkah” |”hih, terserah kamu sayang, asal kamu mau menungguku yang akan pergi lagi dalam waktu lama” “kau ingatkan lagi. Mengapa kita tidak menikmati waktu seakan kita selamanya, anggap tak ada kepergianmu” |”tak usah bersedih. Kau cukup dewasa dengan menjagaku selama ini tanpa tangisan. Mengapa kau ragukan kuatmu untuk ku?” “karena kau disampingku dan akan tetap begitu. Dulu kau tidak disini, jadi aku tak peduli” |”yakin kau tak peduli denganku? Haha” “tidak usah menyebalkan....

kutipan

gue suka berkata-kata. maksudnya mengungkapkan semua dengan kata-kata. kata-kata yang dirangkai sedemikian indah, pake kiasan, majas atau apapun. tapi dewasa ini kebanyakan orang diluar sana selalu menganggap pengungkapan kata-kata ini sebagai kegalauan yang hina. apa yg salah? sampe kadang gue menahan diri untuk berekspresi. ya, gue memikirkan apa kata orang. dan pada akhirnya gue selalu terpana sama blog yang dengan lihainya berkata-kata. tanpa memikirkan apa kata orang. dan yaaa, beberapa kalimat disana mewakili rasa gue, yang kadang gue tahan jadi bisu. Bisa saja mauku terlalu sempurna. Menjadi orang yang kaupilih di antara sempurnanya sosok-sosok yang ada. Menjadi orang yang kaupilih untuk kauambil hatinya, kemudian kaujaga. Menjadi makhluk yang kaumau, untuk berbagi hidup selamanya. Menjadi orang yang kaupilih dan menjadi orang paling beruntung di dunia (surat terakhir seorang aneh) Aku seorang perencana. Itu tugas dan naluriku. Kamu, navigator andal paling manis y...

pagi

masih terbesit sekelibat nama dan beberapa potongan gambar tentang cerita dari masa mimpi indah tetapi tidak begitu nyata seperti rembulan penuh yang terjadi tadi malam masih berdiam tanpa seorang pun ingin menengok sekedar melirik kibasan rambut ini yang terhempas angin tarian dedaunan hijau masih menjadi pemerhati bunga-bunga indah yang berlegok dan terpancar pesonanya meskipun hanya dari senyuman terkulum tanpa lepas masih dijadikan udara untuk media para lebah yang sendiri-sendiri kesepian mencari bunga tuk hinggap masih bahagia menjadi udara yang selalu ada sampai isrofil memainkan sangkakalanya  masih mengharapkan suatu saat bermetamorfosis menjadi bunga yang tak obsesi dihinggapi seluruh lebah, tapi pastikan satu dan terperangkap disana

sekarang

aku masih saja membicarakanmu, mencemburui temanku yang kau sapa. cemburu tanda sayang bukan? tapi aku bukan psikopat, hanya manusia yang tidak ahli memusnahkan rasa sayang, terutama untukmu. tak pandai pula musnahkan kenangan kita. nama kau saja masih berkeliaran, pun wajahmu dan rambut kribomu. lengket rupanya melebihi perangko dan lemnya.  menyambangi mu diruang kerjamu saja aku tak mampu. terlalu besar debar jantungku membayangkan jika mata kita bertegur sapa. lalu sampai kapan? entahlah. mungkin kan ku paksakan bibir ini menyebut dan menyapamu. kalau terlihat aneh, jangan tertawa ya. pun jangan mengasihaniku jika kau sadar tingkahku inginkan kita yang dulu. memang begitu kok. tapi aku bahagia dengan aku yang ini. kau tak perlu menangisiku dan menyesali kita, aku saja tidak menangis apalagi menyesal. kita memang jadi aku dan kamu, tapi itu dulu. yang sekarang, kita itu aku serta harapanku akan kita yang dulu dan kau serta duniamu yang misteri

tenang saja

aku bangga menjadi yang pertama kau aku-kamu kan, menjadi yang pertama kau anggap sebagai yang terdekat, dan yang pertama membuatmu romantis dan mengeluarkan kata cinta dan sayang.  meskipun bukan aku yang pertama kau suka, (mungkin) bukan aku pula yang terakhir untukmu -walau aku sangat berharap jadi yang terakhir- ,  dan mungkin kau pakai semua keromantisanmu untuku (dulu) kepadanya yang setelah aku. aku tetap bangga, menjadi bagian pertama yang mengajarkanmu mencinta, meskipun hanya semu, atau bahkan tak ada cinta untuku, yah walaupun kau pernah mengatakannya. tapi kau jua yang mengakhirinya, aku bisa apa? heheeee, tapi kau masih dipikiranku kok~tenang saja!