Day 2. Makan. Amatlah benar makan adalah jalan tercepat menuju bahagia. Terlebih kalau lagi lapar-laparnya. Tapi mungkin jawabannya terlalu terus terang, mari kita jabarkan hal yang lebih sentimentil. Aku personally akan happy ketika bisa membuat orang lain happy. Iya, ini artinya aku bisa bahagia kalau orang lain bahagia. Ini salah satu hal aja. Sejatinya bahagia itu datang dari diri sendiri. Banyak hal lain yang harus ditempuh dengan proses hingga ujungnya mencapai bahagia. Apakah itu? Achievement. Baik dalam bentuk lolos seleksi, menyelesaikan pekerjaan atau menemukan solusi suatu masalah. Makan itu, bentuk bahagia cepat dan instan. Kalau aku, ketika misalnya dihadapkan suatu masalah, kerjaan atau mau ikut seleksi, biasanya ada masa-masa aku suntuk, jenuh, mumet. Di saat-saat itulah aku car makan enak, buat sekedar menenangkan pikiran, release semua hal negatif. Bahagia? Jelas. Tetapi harus selalu diingat, aku ga akan bisa lari dari masalah. Saat udah tenang, hadapi masalahnya, peke...
Heyho! Astagfirullahalazdim... This post sincerely is my thought about my experience that made me more confident living my life as it created to be by the Director. If it contains something that shows my pride over my Director, trust me that i don't mean that. (for the grammar also). Here i go! As i get older by the time, the Director shows me lots of thing which really makes me think the connection between my fate, my pray and my effort. I mostly let my pray flows slowly, struggle sufficiently and wait without hope. I don't even care whether my pray will get its actual answer or how far i have to pray, exactly I surrender to all my desire. The only thing I know for sure: everything that comes to my life has already been passed the God's gate, no need to worry, simply it just have to be like that, the answer to my pray (always between 'granted or replaced'). Pembuktian bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini adalah hasil usaha dan doa mula...
I really missed the time to write and now i wanna tell you guys about the details of the title.. Semenjak blog ini hanya sebagai diary elektronik tanpa memberi faedah nyata kepada remaja-yang-hobi-google-buat-nyari-jawaban-apapun-dan-percaya-aja-sama-blog-orang, dengan post ini semoga diary ini bisa ada manfaatnya sedikit... Jadi begini pengalaman tes wawancara buat masuk SPS STEI ITB (plus cerita full version seharian ya) Dari email yang masuk mengenai wawancara tertera bahwa email tersebut dikirim ke 8 orang yang menurut gue adalah temen seperjuangan. Persiapan gue buat wawancara adalah google dengan keywords pertanyaan-untuk-wawancara-sekolah-pasca-sarjana-itb-stei namun kurang memuaskan. Penemuan satu-satunya yang memuaskan adalah cerita di blog mengenai tes ini yang ditulis oleh seorang ibu dimana sedang hamil anak ke4 namun masih mau S2 *big applause*. Alhamdulillah blog si ibu memberikan semangat baru ke gue yang single-tapi-badannya-kaya-lagi-hamil-anak-kembar-empat ...
Comments
Post a Comment