Heyho! Astagfirullahalazdim... This post sincerely is my thought about my experience that made me more confident living my life as it created to be by the Director. If it contains something that shows my pride over my Director, trust me that i don't mean that. (for the grammar also). Here i go! As i get older by the time, the Director shows me lots of thing which really makes me think the connection between my fate, my pray and my effort. I mostly let my pray flows slowly, struggle sufficiently and wait without hope. I don't even care whether my pray will get its actual answer or how far i have to pray, exactly I surrender to all my desire. The only thing I know for sure: everything that comes to my life has already been passed the God's gate, no need to worry, simply it just have to be like that, the answer to my pray (always between 'granted or replaced'). Pembuktian bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini adalah hasil usaha dan doa mula...
Day 2. Makan. Amatlah benar makan adalah jalan tercepat menuju bahagia. Terlebih kalau lagi lapar-laparnya. Tapi mungkin jawabannya terlalu terus terang, mari kita jabarkan hal yang lebih sentimentil. Aku personally akan happy ketika bisa membuat orang lain happy. Iya, ini artinya aku bisa bahagia kalau orang lain bahagia. Ini salah satu hal aja. Sejatinya bahagia itu datang dari diri sendiri. Banyak hal lain yang harus ditempuh dengan proses hingga ujungnya mencapai bahagia. Apakah itu? Achievement. Baik dalam bentuk lolos seleksi, menyelesaikan pekerjaan atau menemukan solusi suatu masalah. Makan itu, bentuk bahagia cepat dan instan. Kalau aku, ketika misalnya dihadapkan suatu masalah, kerjaan atau mau ikut seleksi, biasanya ada masa-masa aku suntuk, jenuh, mumet. Di saat-saat itulah aku car makan enak, buat sekedar menenangkan pikiran, release semua hal negatif. Bahagia? Jelas. Tetapi harus selalu diingat, aku ga akan bisa lari dari masalah. Saat udah tenang, hadapi masalahnya, peke...
heyho! disclaimer: tulisan ini tidak untuk menyalahkan atau membenarkan salah satu pihak, hanya sekedar pikiran yang harus dicurahkan. kamu. sebulan atau dua bulan kemarin yang tiba-tiba datang lagi ke hidupku. kamu yang dua tahun ke belakang sudah tidak pernah terlintas apalagi ku rasakan. kamu yang ketika datang cukup membuatku tercengang, ah tapi kita sudah dewasa. kita (atau aku ya?) yang sudah secara gamblang dari awal pembicaraan membahas alasan apa yang membuat kamu datang lagi. aku sedang menjadi pengecut, langsung bertanya di mana kamu akan menghabiskan masa tua mu. hal ini penting karena kita terpisah 150km jauhnya. benarkan? kamu ingin menua di sana dan aku sedang berusaha agar bisa menua di tempat yang bahkan hampir 200km jaraknya dari domisilimu. awalnya tak ku hiraukan hadirmu sampai akhirnya kita berbicara lebih dalam lagi. aku tidak berani mendahului tuhan, jika tuhan menakdirkan pun aku bisa apa. kamu pun begitu. sejatinya sebagai makhluk kita hanya ...
Comments
Post a Comment